Sejarah Lengkap Candi Prambanan
Jika Borobudur adalah kitab suci agama Buddha, maka Candi Prambanan adalah mahakarya agung yang mewujudkan kejayaan dan nilai-nilai luhur agama Hindu di Jawa. Kompleks candi ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga monumen politik dan kosmologi Hindu yang sangat megah. Sejarahnya dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Masa Pembangunan (Pertengahan Abad ke-9 Masehi)
Siapa yang Membangun?
Candi Prambanan dibangun oleh Dinasti Sanjaya, yang menganut agama Hindu Siwa. Setelah periode dominasi Dinasti Syailendra yang Buddha, Dinasti Sanjaya kembali bangkit. Pembangunan candi ini sering dikaitkan dengan dua tokoh penting:
· Rakai Pikatan: Raja Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Pembangunan Prambanan diduga sebagai respons monumental terhadap keberadaan Borobudur, sekaligus penanda kebangkitan kembali Hinduisme.
· Rakai Balitung: Penerus yang melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan serta memperluas kompleks dengan candi-candi perwara (pendamping).
Prasasti Siwagrha (Prasasti Wantil, bertarikh 778 Saka atau 856 Masehi) adalah bukti tertulis utama. Prasasti ini secara eksplisit merayakan selesainya pembangunan sebuah "Rumah Siwa" (Candi Siwa) yang megah dan mencatat pemindahan aliran sungai di dekatnya. Tanggal ini dianggap sebagai tanggal peresmian Candi Prambanan.
Siapa Arsiteknya?
Tidak ada catatan pasti tentang arsitek utamanya. Namun, legenda rakyat yang sangat terkenal mengaitkannya dengan Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Legenda ini adalah fiksi, tetapi secara simbolis mungkin merefleksikan persaingan politik dan budaya antara Dinasti Sanjaya (Hindu, dilambangkan Bandung Bondowoso) dan Dinasti Syailendra (Buddha, dilambangkan Roro Jonggrang) pada masa itu. Nama "Roro Jonggrang" sendiri berarti "Gadis yang Tinggi dan Langsing", yang merujuk pada arca Dewi Durga (perwujudan Roro Jonggrang dalam legenda) di relung utara Candi Siwa.
Bagaimana Proses Pembangunannya?
1. Struktur dan Material: Candi ini berdiri di atas lahan datar dengan fondasi yang dalam untuk menopang bangunan tinggi. Dibangun dengan menggunakan metode interlocking dari batu andesit, mirip dengan Borobudur, tanpa semen.
2. Hierarki Suci: Tidak seperti Borobudur yang bertingkat, Prambanan adalah kompleks candi berpagar yang hierarkis, mencerminkan konsep mandala dunia Hindu.
· Halaman Pusat (Sakral): Tempat 8 candi utama berdiri (3 candi Trimurti, 3 candi Wahana, 2 candi Apit).
· Halaman Tengah: Berisi 224 candi perwara yang tersusun rapi dalam 4 baris konsentris.
· Halaman Luar: Berfungsi sebagai zona transisi, dulunya mungkin berisi bangunan kayu untuk para pendeta.
3. Filosofi Desain: Kompleks ini didedikasikan untuk Trimurti (tiga dewa utama Hindu). Pusatnya adalah Candi Siwa Mahadewa, yang menjulang paling tinggi (47 meter), menegaskan supremasi Siwa sebagai dewa tertinggi, dikelilingi oleh Candi Brahma dan Wisnu.
2. Masa Kejayaan sebagai Pusat Ibadah (Abad ke-9–10 Masehi)
Setelah dibangun, Prambanan menjadi pusat aktivitas keagamaan kerajaan Mataram Kuno. Upacara-upacara besar kerajaan, ritual keagamaan, dan ziarah umat Hindu dari berbagai wilayah dipusatkan di sini. Kompleks ini menegaskan kekuasaan raja yang dianggap sebagai titisan dewa, sekaligus pusat pembelajaran agama dan seni.
3. Masa Abandonasi dan Kehancuran (Abad ke-10–18 Masehi)
Mirip dengan Borobudur, Prambanan ditinggalkan oleh beberapa sebab yang saling berkaitan:
· Perpindahan Pusat Kekuasaan: Alasan paling signifikan adalah dipindahkannya ibukota kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok pada sekitar tahun 929 Masehi. Teori paling kuat adalah karena letusan dahsyat Gunung Merapi yang menghancurkan lingkungan dan infrastruktur.
· Bencana Berkelanjutan: Setelah ditinggalkan, gempa bumi berkekuatan besar (terutama pada abad ke-16, 17, dan 19) menghancurkan banyak bangunan. Ratusan candi perwara runtuh menjadi puing-puing.
· Faktor Alam dan Manusia: Candi yang tidak terawat ditumbuhi vegetasi liar, tertimbun tanah, dan materialnya sering diambil oleh penduduk sekitar untuk bahan bangunan. Nama "Prambanan" sendiri berasal dari nama desa tempat reruntuhan ini ditemukan.
4. Penemuan Kembali dan Dokumentasi Awal
· Laporan Awal (1733): Seorang insinyur VOC bernama C.A. Lons memberikan laporan tertulis pertama tentang reruntuhan ini kepada Batavia, menggambarkannya sebagai "bukit-bukit batu yang ditumbuhi semak".
· Dokumentasi Raffles: Selama periode Inggris (1811-1816), Sir Thomas Stamford Raffles menaruh minat besar. Colin Mackenzie, seorang surveyor di bawah Raffles, mendokumentasikan dan membuat sketsa awal reruntuhan Prambanan, sehingga dikenal oleh dunia Barat.
5. Upaya Restorasi (Abad ke-19–20 Masehi)
Perjalanan untuk menyelamatkan Prambanan lebih rumit karena kondisinya yang porak-poranda akibat gempa.
· 1885: Upaya pembersihan awal oleh J.W. Ijzerman. Ia mulai membersihkan dan mendokumentasikan candi-candi utama. Ia juga mengusulkan metode pembongkaran untuk restorasi.
· 1918–1953: Restorasi Tahap Pertama. Fokus utama adalah menegakkan kembali Candi Siwa yang nyaris runtuh. Pekerjaan ini dilakukan di bawah araha Dinas Purbakala Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst) dengan pimpinan seperti P.J. Perquin dan de Haan. Metode anastylosis (rekonstruksi menggunakan batu asli) mulai disempurnakan di sini. Candi Siwa berhasil selesai direstorasi dan diresmikan pada tahun 1953.
· 1977–1991: Restorasi Tahap Kedua. Proyek besar-besaran oleh Pemerintah Indonesia. Fokusnya adalah merestorasi Candi Brahma dan Candi Wisnu serta candi-candi Wahana (Garuda, Nandi, Angsa) yang masih berupa reruntuhan. Restorasi Candi Wisnu selesai pada 1987 dan Candi Brahma pada 1991.
· Pasca-Gempa 2006: Gempa besar Yogyakarta tahun 2006 menyebabkan kerusakan serius. Ratusan balok batu lepas dan retak. Proyek tanggap darurat dan restorasi kembali dilakukan, terutama pada candi-candi utama. Candi-candi perwara di halaman tengah (yang sebagian besar belum direstorasi karena kekurangan data dan batu asli) semakin rapuh.
Makna Filosofis: Kosmos dalam Batu
Untuk memahami Prambanan, kita harus melihatnya sebagai representasi vertikal dan horizontal dari alam semesta Hindu:
1. Orientasi Horisontal (Mandala):
Tata letak kompleks memusat, menggambarkan hierarki kesucian yang makin tinggi menuju pusat. Ini adalah diagram kosmos, dengan pusat sebagai Gunung Meru, tempat para dewa bersemayam.
2. Orientasi Vertikal (Tribhuvana):
Setiap candi utama, terutama Candi Siwa, terbagi menjadi tiga bagian yang melambangkan tiga alam:
· Bhurloka (Kaki Candi): Dunia manusia fana, penuh nafsu dan dosa. Reliefnya menggambarkan kisah-kisah duniawi.
· Bhuvarloka (Tubuh Candi): Dunia para pertapa dan dewa-dewa tingkat menengah. Tempat manusia berusaha menyucikan diri.
· Svarloka (Atap Candi): Dunia para dewa tertinggi, pusat spiritual. Di puncak Candi Siwa, terdapat sebuah Ratna (mustika) yang melambangkan esensi tertinggi.
3. Narasi Relief yang Megah:
Sama seperti Borobudur, Prambanan juga adalah kitab cerita yang diukir di batu. Panel-panel reliefnya, terutama di dinding Candi Siwa dan Candi Brahma, menceritakan epos besar:
· Relief Ramayana: Menghiasi dinding utama Candi Siwa dan Candi Brahma. Ini adalah narasi paling dominan, menceritakan perjalanan Rama menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Kisah ini adalah alegori tentang perjuangan kebenaran (dharma) melawan kejahatan (adharma).
· Relief Krishnayana: Terdapat di Candi Wisnu, menceritakan kisah hidup Kresna, titisan Dewa Wisnu, dari masa kanak-kanak hingga menjadi raja dan pahlawan.
4. Arca-Arca Ikonik:
· Candi Siwa: Berisi arca Siwa Mahadewa (berdiri gagah) di ruang utama. Di relung-relung lain, terdapat arca Agastya (resi Siwa), Ganesha (anak Siwa), dan yang paling terkenal, arca Durga Mahisasuramardini di relung utara, yang oleh masyarakat setempat dihubungkan dengan legenda Roro Jonggrang.
· Candi Brahma & Wisnu: Menyimpan arca Brahma dan Wisnu yang agung dalam posisi berdiri.
· Candi Wahana: "Wahana" berarti kendaraan suci. Candi di hadapan masing-masing dewa Trimurti ini berisi arca kendaraan mereka, yang berukuran sangat besar: Nandi (lembu Siwa), Angsa (kendaraan Brahma), dan Garuda (burung mitologi kendaraan Wisnu). Arca Garuda di sini menjadi inspirasi Garuda Pancasila.
Candi Prambanan adalah monumen abadi yang menegaskan keagungan, seni, dan arsitektur Hindu yang sangat tinggi. Ia adalah puncak dari sebuah "dialog peradaban" antara Buddha dan Hindu di Jawa kuno, yang hasilnya adalah dua warisan dunia yang berdiri megah dan saling melengkapi.
Komentar
Posting Komentar