Sejarah Lengkap Candi Borobudur
Candi Borobudur bukan sekadar tumpukan batu megah, melainkan sebuah kitab suci agung yang terukir dalam batu, yang menceritakan perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan. Sejarahnya dapat dibagi menjadi beberapa fase utama:
1. Masa Pembangunan (Sekitar Abad ke-8–9 Masehi)
Siapa yang Membangun?
Candi ini dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Dinasti ini adalah penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat. Pembangunannya diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, meskipun peletakan batu pertama mungkin sudah dimulai oleh raja sebelumnya.
Kapan Dibangun?
Diperkirakan pembangunan berlangsung antara tahun 780–840 Masehi. Angka ini didasarkan pada prasasti, analisis aksara pada relief Karmawibhangga, serta perbandingan gaya seni dengan candi-candi lain di Asia.
Siapa Arsiteknya?
Menurut prasasti Karangtengah (824 M), arsitek yang merancang Borobudur adalah Gunadharma. Namanya melegenda dan diabadikan dalam cerita rakyat, bahkan sebuah bukit di selatan candi dinamakan Bukit Gunadharma, yang konon menjadi tempat ia mengawasi pembangunan.
Bagaimana Proses Pembangunannya?
1. Struktur Awal: Borobudur tidak dibangun di atas tanah datar, melainkan sebuah bukit alami yang diratakan dan diperkuat. Inti bukit ini menjadi "kerangka" candi, sehingga strukturnya sangat stabil.
2. Teknik Konstruksi: Dibangun dengan metode interlocking (saling mengunci) tanpa menggunakan semen atau perekat. Sekitar 2 juta balok batu andesit yang dipotong dengan presisi tinggi disusun sedemikian rupa, mirip seperti menyusun puzzle raksasa. Batu-batu ini kemungkinan besar berasal dari sungai-sungai di sekitar Progo dan Elo.
3. Filosofi Desain: Sejak awal, Borobudur dirancang sebagai mandala raksasa tiga dimensi, sebuah diagram kosmik alam semesta. Struktur keseluruhannya melambangkan perjalanan spiritual dari dunia keinginan menuju pencerahan.
2. Masa Kejayaan dan Penggunaan (Abad ke-9–11 Masehi)
Selama kurang lebih dua abad, Borobudur menjadi pusat ziarah dan pendidikan agama Buddha Mahayana yang termasyhur, tidak hanya dari Nusantara tetapi juga dari berbagai penjuru Asia. Ribuan bhiksu datang untuk belajar, bermeditasi, dan melakukan ritual pradaksina (berjalan mengelilingi candi searah jarum jam sambil merenungkan ajaran Buddha yang terpahat pada relief).
3. Masa Abandonasi dan Terlupakan (Abad ke-11–18 Masehi)
Beberapa teori menyebabkan candi ini ditinggalkan:
· Bencana Alam: Letusan dahsyat Gunung Merapi diduga menjadi penyebab utama. Material vulkanik dan lahar dingin menimbun candi hingga tak terlihat.
· Pergeseran Pusat Kekuasaan: Pusat politik dan budaya berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (era Kediri hingga Majapahit). Fokus pembangunan candi besar-besaran pun berkurang.
· Islamisasi: Seiring masuk dan berkembangnya Islam di Jawa, situs-situs keagamaan Buddha-Hindu perlahan ditinggalkan.
Selama berabad-abad, Borobudur benar-benar terkubur di bawah lapisan tanah dan abu vulkanik, berubah menjadi bukit yang ditumbuhi semak belukar. Dalam memori kolektif masyarakat sekitar, bukit ini sering dikaitkan dengan tempat angker.
4. Penemuan Kembali (1814)
Nama yang paling melegenda dalam penemuan kembali Borobudur adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Saat menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal di Jawa (1811–1816), ia mendengar laporan tentang adanya reruntuhan bangunan suci yang tertimbun di dekat Magelang.
Dengan semangat risetnya, Raffles menugaskan seorang insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menyelidikinya. Pada tahun 1814, Cornelius dan 200 orang bawahannya memulai pembersihan pertama. Mereka menebang pohon, membakar semak, dan menggali tanah selama dua bulan. Meski baru sebagian kecil yang terlihat, usaha ini menjadi awal dari kebangkitan Borobudur.
5. Upaya Restorasi (Abad ke-19–20 Masehi)
Perjalanan mengembalikan kemegahan Borobudur sangat panjang dan dramatis:
· 1835: Pembersihan besar-besaran dilakukan oleh Residen Kedu, Hartmann. Area candi dibersihkan dan untuk pertama kalinya terlihat keseluruhan bentuknya.
· 1882: Sebuah usulan kontroversial muncul, yaitu membongkar seluruh candi dan memindahkan reliefnya ke museum. Untungnya, usulan ini tidak terealisasi.
· 1907–1911: Restorasi skala besar pertama di bawah kepemimpinan Theodoor van Erp. Ia adalah pahlawan yang menyelamatkan Borobudur dari keruntuhan total. Van Erp memperbaiki dinding yang miring, membangun kembali tiga teras bundar dan stupa induk yang rusak parah. Inilah yang disebut Restorasi Van Erp.
· 1973–1983: Proyek Restorasi Terbesar oleh Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan UNESCO. Ini adalah proyek kolosal berbiaya puluhan juta dolar AS. Metodenya adalah bongkar-pasang total. Lebih dari 1,3 juta balok batu dibongkar, setiap batu diidentifikasi, dibersihkan dengan metode kimia dan mekanis, lalu dipasang kembali dengan sistem drainase internal yang baru untuk mencegah kebocoran air. Fondasi candi juga diperkuat dengan beton. Keberhasilan proyek ini mengantarkan Borobudur menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991.
Makna Filosofis: Kitab di atas Bukit
Untuk memahami Borobudur, kita harus melihatnya sebagai sebuah ensiklopedia spiritual. Struktur 10 tingkatnya (melambangkan 10 tingkatan Bodhisattva) dibagi menjadi tiga ranah dalam kosmologi Buddha:
1. Kamadhatu (Ranah Nafsu):
· Bagian kaki candi yang sekarang tertutup.
· Reliefnya yang tersembunyi, Karmawibhangga, menggambarkan hukum sebab-akibat. Menceritakan suka, duka, surga, dan neraka manusia yang masih terbelenggu hawa nafsu.
2. Rupadhatu (Ranah Bentuk):
· Meliputi empat teras persegi.
· Dindingnya dipenuhi 2.672 panel relief naratif yang jika dibentangkan mencapai panjang sekitar 6 km!
· Berisi kisah-kisah agung: Lalitavistara (biografi Buddha Gautama dari lahir hingga mencapai pencerahan), Jataka dan Avadana (cerita kehidupan Buddha sebelumnya), serta Gandavyuha (perjalanan spiritual Sudhana mencari kebijaksanaan tertinggi).
· Di ranah ini, manusia telah meninggalkan nafsu duniawi namun masih memiliki keterikatan pada bentuk fisik dan konsep.
3. Arupadhatu (Ranah Tanpa Bentuk):
· Puncak candi, terdiri dari tiga teras melingkar dan sebuah stupa induk.
· Tidak ada relief di sini. Melambangkan kesunyian dan keheningan sempurna, melampaui segala bentuk dan keinginan.
· 72 stupa kecil berterawang (berlubang) mengelilingi stupa induk, masing-masing berisi arca Buddha yang "tak terlihat sempurna" dari luar, melambangkan tahap menuju kesempurnaan.
· Stupa induk yang tertutup rapat di puncak adalah puncak dari segalanya: Kekosongan Agung (Sunyata) atau Pencerahan Sempurna.
Candi Borobudur adalah monumen abadi yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan spiritual. Dari dasar yang penuh nafsu, manusia diajak naik melalui tingkatan pembelajaran dan meditasi, hingga akhirnya mencapai puncak kebijaksanaan tertinggi yang kosong dari ego dan penderitaan. Itulah keajaiban Borobudur.
Komentar
Posting Komentar