Alkisah, di kahyangan, ada seorang dewi cantik bernama Dayang Sumbi. Karena sebuah kesalahan, ia dikutuk dan harus turun ke bumi. Di bumi, ia berwujud seorang wanita yang tinggal di sebuah gubuk sederhana di tengah hutan. Kesukaannya sehari-hari adalah menenun.
Suatu hari, saat sedang asyik menenun, alat tenunnya (teropong) terjatuh dan menggelinding keluar gubuk. Dayang Sumbi malas mengambilnya. Ia pun bergumam, "Ah, siapa pun yang mau mengambilkan teropongku, jika perempuan akan kujadikan saudara, dan jika laki-laki akan kujadikan suami."
Tanpa diduga, seekor anjing jantan bernama Tumang datang menghampiri dan menyerahkan teropong itu di mulutnya. Dayang Sumbi terkejut, tetapi ia tidak bisa mengingkari ucapannya sendiri. Akhirnya, ia pun menikah dengan Tumang.
Tentu saja, pernikahan ini sangat aneh. Para dewa di kahyangan murka mengetahui seorang dewi menikah dengan seekor anjing. Sebagai hukuman, mereka mengusir Dayang Sumbi dari kahyangan selamanya.
Beberapa bulan kemudian, Dayang Sumbi melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat dan tampan. Ia menamainya Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, kuat, dan gemar berburu di hutan. Ia selalu ditemani oleh Tumang, yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri, tanpa sepengetahuan Sangkuriang. Sangkuriang hanya tahu Tumang adalah anjing kesayangannya.
Suatu hari, Dayang Sumbi sangat menginginkan daging kijang. Ia pun menyuruh Sangkuriang untuk berburu. "Sangkuriang, ibumu sangat ingin makan hati kijang. Berburulah dan bawakan aku seekor kijang," pinta Dayang Sumbi.
Dengan semangat, Sangkuriang pergi ke hutan ditemani Tumang. Namun, seharian berkeliling, ia tidak menemukan seekor kijang pun. Putus asa dan takut mengecewakan ibunya, Sangkuriang menatap Tumang. Sebuah pikiran buruk muncul di benaknya. Tanpa pikir panjang, ia membunuh Tumang, mengambil hatinya, dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, ia menyerahkan hati itu kepada ibunya. Dayang Sumbi sangat gembira, ia langsung memasak dan memakannya. Namun, setelah rasa laparnya hilang, ia mulai curiga. "Sangkuriang, di mana Tumang? Kenapa dia tidak pulang bersamamu?" tanyanya.
Awalnya Sangkuriang mengelak, tetapi akhirnya ia mengaku dengan jujur, "Aku tidak mendapatkan kijang, Bu. Hati yang Ibu makan tadi adalah hati Tumang."
Dayang Sumbi sangat terkejut dan marah besar. Dengan emosi, ia mengambil sendok nasi dari tempurung kelapa dan memukulkannya ke kepala Sangkuriang. Pukulan itu sangat keras hingga meninggalkan luka parah dan sobekan di kepala anaknya. Saking murkanya, Dayang Sumbi mengusir Sangkuriang dari rumah. "Pergi kau! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!"
Dengan perasaan sedih dan penuh luka di hati serta kepalanya, Sangkuriang meninggalkan gubuk. Ia berlari ke dalam hutan dan menghilang tanpa jejak.
Bertahun-tahun berlalu. Dayang Sumbi tetap tinggal di gubuknya. Sebagai seorang dewi, ia dianugerahi kecantikan abadi. Wajahnya tetap cantik dan tubuhnya tetap muda meskipun usianya sudah sangat tua.
Di sisi lain, Sangkuriang mengembara ke berbagai tempat, menimba ilmu dan menjadi seorang pemuda yang sangat sakti dan gagah perkasa. Luka di kepalanya telah sembuh, namun meninggalkan bekas yang kini tertutup rambutnya.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Sangkuriang yang kini seorang pemuda tampan, tanpa sengaja kembali ke tanah kelahirannya. Ia tiba di sebuah hutan dan melihat seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu adalah Dayang Sumbi, ibunya sendiri, yang terlihat masih muda. Mereka tidak saling mengenali.
Sangkuriang terpikat oleh kecantikan Dayang Sumbi, begitu pula sebaliknya. Mereka pun berkenalan dan jatuh cinta. Sangkuriang melamar Dayang Sumbi dan lamarannya diterima.
Suatu hari, saat Sangkuriang sedang beristirahat, Dayang Sumbi melihatnya dari dekat. Ia membelai rambut Sangkuriang dan melihat sebuah bekas luka panjang di kepalanya. Seketika itu juga, Dayang Sumbi terkejut. Bentuk lukanya persis seperti bekas pukulan sendok yang ia berikan kepada anaknya dulu.
Dayang Sumbi sadar, pemuda tampan yang akan menjadi suaminya itu adalah Sangkuriang, anak kandungnya sendiri. Ia gentar dan berusaha mencari cara untuk menggagalkan pernikahan ini tanpa melukai perasaan Sangkuriang secara langsung.
Dayang Sumbi mengajukan dua syarat yang mustahil kepada Sangkuriang sebagai mahar pernikahan. Ia berkata, "Baiklah, Sangkuriang. Aku bersedia menikah denganmu, asalkan kau bisa memenuhi dua permintaanku. Pertama, buatkan aku sebuah danau yang luas untuk memandikan perahu kita. Kedua, buatkan aku sebuah perahu yang sangat besar. Semua harus selesai dalam satu malam, sebelum ayam berkokok dan fajar menyingsing."
Sangkuriang menyanggupi. Ia segera bekerja di malam yang telah ditentukan. Dengan kesaktiannya dan bantuan makhluk gaib serta jin, ia membendung Sungai Citarum untuk membuat danau. Ia mencabuti pohon-pohon besar dan menumpuknya menjadi sebuah perahu raksasa. Pekerjaan itu berlangsung sangat cepat. Danau mulai terbentuk, dan perahu hampir selesai.
Dayang Sumbi panik melihat kemajuan Sangkuriang. Ia tidak bisa membiarkannya berhasil. Dengan akal liciknya, ia membangunkan semua wanita di desa dan menyuruh mereka menumbuk padi di lesung. Ia juga menyebarkan kain sutra merah di ufuk timur. Suara lesung yang ramai membangunkan ayam-ayam jantan. Ayam-ayam itu mengira hari sudah pagi, mereka pun mulai berkokok bersahutan. Cahaya merah di ufuk timur pun menyinari langit, membuatnya tampak seperti fajar.
Sangkuriang terkejut. Ia mendengar ayam berkokok dan melihat langit memerah. Ia mengira telah gagal. Kemarahan dan kekecewaan memuncak dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga, ia menendang perahu besar yang telah susah payah dibuatnya. Perahu itu terlempar jauh dan jatuh tertelungkup.
Danau yang ia buat pun meluap karena bendungannya jebol. Luapan air itu menjadi sebuah danau yang kini dikenal sebagai Danau Bandung. Sementara perahu yang tertelungkup itu berubah menjadi sebuah gunung yang bentuknya seperti perahu terbalik. Gunung itulah yang hingga kini dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu, yang dalam bahasa Sunda berarti "perahu yang tertelungkup".
Sangkuriang yang marah kemudian mengejar Dayang Sumbi. Namun, Dayang Sumbi yang teringat akan kesaktiannya memohon kepada para dewa untuk menyelamatkannya. Atas permohonannya, Dayang Sumbi berubah menjadi sekuntum bunga yang bernama Bunga Jaksi. Konon, Sangkuriang tidak berhasil menemukannya, dan ia pun menghilang ditelan bumi.
Komentar
Posting Komentar