KHUTBAH JUMAT: “BEBERAPA KETIKA LAGI, KIAMAT”
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، بَشَّرَ وَأَنْذَرَ، وَذَكَّرَ بِالسَّاعَةِ، فَصَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita duduk di masjid ini dalam keadaan sehat, muda, dan memiliki rencana-rencana untuk esok hari. Mungkin kita berpikir, “Kiamat masih lama.” Namun, tahukah kita bahwa dalam timbangan Allah, waktu sejatinya sudah sangat dekat? Allah SWT berfirman:
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ
“Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), lagi berpaling (dari akhirat).” (QS. Al-Anbiya’: 1).
Ayat ini bukan sekadar berita. Ini adalah alarm dari langit. Bedanya dengan alarm dunia, jika alarm dunia berbunyi kita bisa menundanya (snooze), alarm Kiamat tidak memiliki tombol tunda. Begitu ia berbunyi, tidak ada lagi kesempatan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tema kiamat seringkali hanya kita gambarkan sebagai bencana alam yang mengerikan. Namun, Al-Qur’an menggambarkan kiamat dalam dua perspektif yang harus kita pahami: Kiamat Kecil (Sughra) dan Kiamat Besar (Kubra) .
Pertama, Kiamat Sughra.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara...” (HR. Muslim).
Kematian adalah kiamat personal kita. Lihatlah statistik di Indonesia, setiap jam ada sekitar 180 orang yang meninggal dunia. Itu artinya, dalam 20 menit khutbah ini, sekitar 60 jiwa telah kembali kepada Allah. Di antara mereka ada yang tua, tapi tidak sedikit yang muda.
Jangan pernah merasa kiamat masih lama jika kita sering mengantar jenazah teman atau tetangga. Bisa jadi, besok pagi giliran kitalah yang diantar. Di sinilah pentingnya kita menghidupkan hati, bukan hanya menghidupkan raga.
Kedua, Kiamat Kubra.
Inilah kehancuran total alam semesta. Bayangan kita seringkali kalah dahsyat dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an. Allah tidak menggambarkannya sebagai bencana lokal, tapi chaos kosmik. Dalam Surah Al-Hajj ayat 1-2, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ . يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُمْ بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.”
Perhatikan, seorang ibu yang menyusui adalah simbol cinta tertinggi di dunia. Namun saat kiamat, ia akan menjatuhkan bayinya. Mengapa? Karena rasa takut yang mencekik dada. Saat itu, tidak ada yang peduli pada jabatan, harta, atau pasangan. Yang ada dalam pikiran hanya satu: نَفْسِي نَفْسِي (diri saya, diri saya).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Lalu, kapan kiamat itu terjadi? Ini adalah pertanyaan yang sering diajukan, namun ilmunya hanya milik Allah. Rasulullah SAW sendiri ketika ditanya Malaikat Jibril, menjawab:
مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ
“Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” (HR. Muslim).
Yang jauh lebih penting dari pertanyaan “Kapan Kiamat?” adalah pertanyaan “Apa yang sudah saya siapkan untuk Kiamat?”.
Di era digital ini, kiamat seolah menjadi dekat dalam genggaman kita. Di media sosial, kita sering menunda taubat, menunda shalat, karena asyik scrolling video yang tidak bermanfaat. Kita merasa memiliki banyak waktu. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang realitas 5 langkah menuju kiamat personal:
Beliau bersabda:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).
Jamaah sekalian,
Apa bekal kita menghadapi hari yang mengerikan itu?
Bekalnya bukan saldo ATM, bukan mobil mewah, bukan followers Instagram. Bekalnya adalah naungan Allah di Padang Mahsyar. Rasulullah SAW menjanjikan 7 golongan yang mendapat naungan Allah saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Di antaranya:
1. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.
2. Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.
3. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena-Nya.
4. Seseorang yang tangannya gemar bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
Inilah saham akhirat yang tidak akan rontok meski kiamat menghancurkan segalanya.
Marilah kita bertobat sebelum terlambat. Kiamat itu terasa ringan bagi orang yang ringan dosanya, dan terasa berat bagi orang yang berat timbangan maksiatnya. Jangan pernah meremehkan dosa kecil, karena dosa-dosa itu akan menjadi gunung di akhirat.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
---
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَاحِبُ لِوَاءِ الْحَمْدِ وَالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Menutup khutbah ini, mari kita renungkan nasihat yang sering dilupakan. Suatu hari, seorang sahabat bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kapankah hari kiamat itu?”
Rasulullah balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambutnya?”
Lelaki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, dan sedekah. Tetapi aku mempersiapkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Maka Rasulullah SAW bersabda, “Engkau akan bersama orang yang kau cintai.” (HR. Bukhari-Muslim).
Ini adalah kabar gembira. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah sistem navigasi yang akan mengantarkan kita ke surga, meski amal ibadah kita terkadang masih bolong-bolong.
Akhirnya, jadikan sisa umur kita sebagai ladang menanam kebaikan. Janganlah kita menjadi orang yang menyesal, yang berkata seperti dalam Al-Qur’an:
يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia berkata: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” (QS. Al-Fajr: 24).
Hidup yang sebenarnya bukanlah di dunia fana ini, tapi di alam baqa’ sana. Jangan sampai HP kita lebih kita cintai daripada Mushaf Al-Qur’an. Jangan sampai pekerjaan lebih kita prioritaskan daripada shalat berjamaah. Karena, detak jam terus berjalan menuju titik nol.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Komentar
Posting Komentar